Daftar Blog Saya

Páginas

Sabtu, 25 April 2015

Makalah Laporan Praktikum IPA SD

MAKALAH



Kegiatan Praktikum IPA Untuk Membuktikan Sifat-sifat Air
Tahun 2015


BAB I
Pendahuluan

A.    Latar Belakang Masalah
IPA sebagai suatu proses penelusuran merupakan suatu pandangan yang menghubungkan gambaran sains yang berhubungan erat dengan segi laboratorium beserta perangkatnya. Faktanya bahwa air sangat dekat dengan kehidupan manusia. Air juga memiliki banyak sifat yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pelajaran SAINS terdapat materi tentang sifat-sifat air. Untuk mengetahui dan membuktikan apa saja sifat-sifat air tersebut dan bagaimana terjadinya maka siswa perlu melakukan sebuah peneelusuran atau praktikum di laboratorium.
Dari latar belakang diatas, kami mengangkat judul “Kegiatan Praktikum Untuk Membuktikan Sifat-sifat Air”.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa air itu?
2.      Apa saja sifat-sifat air?
3.      Kegiatan apa saja yang dilakukan siswa untuk membuktikan sifat-sifat air?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui definisi air.
2.      Untuk mengetahui sifat-sifat air.
3.      Untuk mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan siswa untuk membuktikan sifat-sifat air.


D.    Manfaat
1.      Agar siswa mengerti bahwa belajar IPA adalah belajar dengan alam.
2.      Agar siswa mnegetahui bahwa IPA bukanlah suatu mata pelajaran hafalan.
3.      Agar siswa dan guru belajar menjadi seorang peneliti melalui IPA.
4.      Meningkatkan kualitas guru dalam pembelajaran dengan menggunakan
metode eksperimen yang telah dilakukan siswa, sehingga siswa bisa berperan langsung dalam pembelajaran ini.
5.      Kualitas pendidikan di sekolah akan meningkat, karena adanya penigkatan cara mengajar guru dan hasil belajar siswa. 

Untuk laporan lengkap makalah tentang laporan Praktikum IPA seilahkan kirim email  ke akang.juve@gmail.com
terima kasih telah berkunjung untuk artikel lainnya seilahkan klik disini

Rabu, 01 April 2015

Model Pembelajaran Jigsaw

Pengertian Model Pembelajaran Jigsaw

Model Pembelajaran Jigsaw
Ilustrasi Model Pembelajaran Jigsaw
Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan dan diuji oleh Elliot Arronson dan rekan-rekannya di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawan di Universitas John Hopkin (Sugianto, 2010:45).

Jigsaw adalah salah satu dari metode-metode kooperatif yang paling fleksibel (Slavin, 2005:246). Model pembelajaran Jigsaw merupakan salah satu variasi model Collaborative Learning yaitu proses belajar kelompok dimana setiap anggota menyumbangkan informasi, pengalaman, ide, sikap, pendapat, kemampuan, dan keterampilan yang dimilikinya, untuk secara bersama-sama saling meningkatkan pemahaman seluruh anggota.

Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Sudrajat, 2008:1).

Model pembelajaran Jigsaw merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan strategi ini adalah dapat melibatkan seluruh peserta didik dalam belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang lain (Zaini, 2008:56).

Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw

Pada pembelajaran model Jigsaw para siswa bekerja dalam tim yang heterogen. Para siswa tersebut diberikan tugas untuk membaca beberapa bab atau unit, dan diberikan lembar ahli yang terdiri atas topik-topik yang berbeda yang harus menjadi fokus perhatian masing-masing anggota tim saat mereka membaca. Setelah semua peserta didik selesai membaca, siswa dari tim berbeda yang mempunyai fokus topik sama bertemu dalam kelompok ahli untuk menentukan topik mereka. Para ahli tersebut kemudian kembali kepada tim mereka dan secara bergantian mengajari teman satu timnya mengenai topik mereka.

Selanjutnya para siswa menerima penilaian yang mencakup seluruh topik dan skor kuis akan menjadi skor tim. Skor-skor yang dikontribusikan para siswa kepada timnya didasarkan pada sistem skor perkembangan individual dan para siswa yang timnya meraih skor tertinggi akan menerima sertifikat atau bentuk-bentuk rekognisi tim lainnya. Dengan demikian para siswa termotivasi untuk mempelajari materi dengan baik dan untuk bekerja keras dalam kelompok ahli mereka supaya dapat membantu timnya melakukan tugas dengan baik.

Tahapan-tahapan penerapan pembelajaran model Jigsaw adalah sebagai berikut:
  1. Pilihlah materi belajar yang dapat dipisah menjadi bagian-bagian. Sebuah bagian dapat disingkat seperti sebuah kalimat atau beberapa halaman.
  2. Hitung jumlah bagian belajar dan jumlah peserta didik. Dengan satu cara yang pantas, bagikan tugas yang berbeda kepada kelompok peserta yang berbeda.
  3. Setelah selesai, bentuk kelompok Jigsaw Learning. Setiap kelompok  ada seorang wakil dari masing-masing kelompok dalam kelas.
  4. Kemudian bentuk kelompok peserta didik Jigsaw Learning dengan jumlah sama.
Berikut ini disajikan diagram tahapan pembelajaran model Jigsaw:

Diagram 1. Urutan Pertama Penjelasan Semua Kelompok

Diagram di atas menggambarkan guru membagi kelompok ke dalam tiga kelompok yang berbeda dan masing-masing kelompok terdiri dari empat orang siswa (ditandai dengan warna yang berbeda-beda).

Diagram 2. Urutan Kedua Kelompok Belajar

Untuk diagram kedua menggambarkan masing-masing kelompok mendiskusikan materi yang berbeda.

Diagram 3 Urutan Ketiga Kelompok Belajar Kolaboratif

Diagram di atas adalah pembentukan kelompok baru yang anggota kelompoknya terdiri atas anggota utusan dari masing-masing kelompok sebelumnya (diagram kedua).

Faktor Keberhasilan Model Pembelajaran Jigsaw

Faktor-faktor kunci keberhasilan yang harus diperhatikan dalam penerapan model pembelajaran jigsaw adalah:
  1. Positive interdependence. Setiap anggota kelompok harus memiliki ketergantungan satu sama lain yang dapat menguntungkan dan merugikan anggota kelompok lainnya.
  2. Individual accountability. Setiap anggota kelompok harus memiliki rasa tanggung jawab atas kemajuan proses belajar seluruh anggota termasuk dirinya sendiri.
  3. Face-to-face promotive interaction. Anggota kelompok melakukan interaksi tatap muka yang mencakup diskusi dan elaborasi dari materi pembahasan.
  4. Social skills. Setiap anggota kelompok harus memiliki kemampuan bersosialisasi dengan anggota lainnya sehingga pemahaman materi dapat diperoleh secara kolektif.
  5. Groups processing and Reflection. Kelompok harus melakukan evaluasi terhadap proses belajar untuk meningkatkan kinerja kelompok.

Hambatan model pembelajaran Jigsaw

Tidak selamanya proses belajar dengan model Jigsaw berjalan dengan lancar. Ada beberapa hanbatan yang dapat muncul antara lain:
  1. Kurang terbiasanya peserta didik dan pengajar dengan model ini. Peserta didik dan pengajar masih terbawa kebiasaan model konvensional, dimana pemberian materi terjadi secara satu arah. 
  2. Terbatasnya waktu. Proses model pembelajaran ini membutuhkan waktu yang lebih banyak, sementara waktu pelaksanaan model ini harus disesuaikan dengan beban kurikulum.

Daftar Pustaka

  • Slavin, Robert E. 2005. Cooperative Learning (cara efektif dan menyenangkan pacu prestasi seluruh peserta didik). Bandung: Nusa Media.
  • Sudrajat, Akhmad. 2008. Cooperative Learning-teknik Jigsaw. http://akhmadsudrajat.wordpress.com.
  • Sugianto. 2010. Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Yuma Pustaka.
  • Zaini, Hisyam dkk. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.


Sumber : http://www.kajianpustaka.com/2013/09/model-pembelajaran-jigsaw.html

Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil

Indahnya berbagi... kali ini saya akan membahas tentang :


Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil


A.    Definisi Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok merupakan strategi yang memungkinkan siswa/mahasiswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui satu proses yang memberi kesempatan untuk berfikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif. Dengan demikian diskusi kelompok dapat meningkatkan kreativitas siswa/mahasiswa, serta membina kemampuan berkomunikasi termasuk di dalamnya keterampilan berbahasa.
Diskusi kelompok kecil mempunyai karakteristik sebagai berikut :
  1. Melibatkan kelompok orang yang anggotanya antara 3-9 orang (idealnya 5-9 orang).
  2. Berlangsung dalam interaksi secara bebas (tidak ada tekanan dan paksaan ) dan langsung, artinya semua anggota kelompok mendapat kesempatan untuk saling beradu pandang dan saling mendengarkan serta saling berkomunikasi dengan yang lain.
  3. Mempunyai tujuan tertentu yang akan dicapai dengan kerjasama antar anggota kelompok.
  4. Berlangsung menurut proses yang teratur dan sistematis, menuju suatu kesimpulan.
Dengan memperhatikan keempat karakteristik tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan diskusi kelompok kecil adalah suatu proses pembicaraan yang teratur  yang melibatkan sekelompok orang yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil dalam interaksi tatap muka yang informal dengan tujuan untuk mengambil keputusan atau memecahakan suatu persoalan atau masalah. Siswa/mahasiswa yang telah dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil tersebut terbagi menjadi pimpinan diskusi seperti guru atau salah seorang teman dari siswa/mahasiswa dalam kelompok tersebut. Setiap siswa/mahasiswa dalam anggota kelompok masing-masing bebas tanpa ada tekanan dari pihak manapun untuk menyumbang pendapat, saran, berbagi pengalaman, menghasilkan kesimpulan bersama atau memecahkan masalah yang didiskusikan.
Membimbing kegiatan diskusi dalam pembelajaran merupakan salah satu keterampilan mengajar yang harus dikuasai oleh guru, karena melalui diskusi siswa/mahasiswa didorong untuk belajara secara aktif, belajar mengemukakan pendapat, berinteraksi, saling menghargai, dan berlatih bersikap positif. Hasil pembelajaran yang diharapkan dapat dicapai melalui kegiatan diskusi terutama setiap individu dapat membandingkan persepsinya yang mungkin berbeda dengan temannya yang lain, membandingkan interpretasi maupun informasi yang diperoleh. Dengan demikian melalui kegiatan diskusi yang dikembangkan dalam pembelajaran setiap individu siswa/mahasiswa dapat saling melengkapi, memperbaiki, sehingga kekurangan-kekurangan dapat dipecahkan.
B.    Tujuan dan Manfaat Diskusi
Adapun tujuan dan manfaat kegiatan diskusi anatara lain :
  1. Memupuk sikap toleransi; yaitu setiap siswa/mahasiswa saling menghargai terhadap pendapat yang dikemukakan oleh setiap peserta didik.
  2.  Memupuk kehidupan demokrasi; yaitu setiap siswa/mahasiswa secara bebas dan bertanggung jawab terbiasa mengemukakan pendapat, bertukar fikiran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
  3. Mendorong pembelajaran secara aktif; yaitu siswa/mahasiswa dalam membahas suatu topik pembelajaran tidak selalu menerima dari guru, akan tetapi melalui kerjasama dalam kelompok diskusi siswa/mahasiswa belajar mengembangkan kemmapuan berfikirnya.
  4. Menumbuhkan rasa percaya diri; yaitu dengan kebiasaan untuk beragumentasi yang dilakukan antar sesama teman dalam kelompok diskusi, akan mendorong keberanian dan rasa percaya diri mengajukan pendapat maupun mencari solusi pemecahan.
C.     Tahap-Tahap Kegiatan diskusi
Agar kegiatan diskusi dapat berjalan dengan lancar, maka dalam pelaksanaannya harus memperhatikan beberapa keterampilan dasar sebagai berikut:
1. Memusatkan perhatian
Selama kegiatan diskusi berlangsung guru senantiasa harus berusaha memusatkan perhatian dan aktivitas pembelajaran siswa/mahasiswa pada topik atau permasalahan yang didiskusikan. Dengan demikian apabila terjadi pembicaraan yang menyimpang dari sasaran diskusi, maka pada saat itu pula pimpinan diskusi harus segera meluruskan dan mengingatkan peserta diskusi tentang topik dan sasaran dari diskusi yang sedang dilakukan.
Diskusi sebagai bagian dari aktivitas pembelajaran harus berjalan secara efektif dan efisisen. Salah satu  aspek untuk menunjang efektifitas diskusi yaitu apabila kegiatan diskusi tidak terjadi pembicaraan yang menyimpang. Semua pembicaraan harus terfokus pada permasalahan yang sedang dibahas. Oleh karena itu sebelum dan selama proses diskusi harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
–   Merumuskan tujuan diskusi; yaitu rumusan tujuan atau kompetensi secara jelas dan terukur yang harus dimiliki atau dicapai oleh siswa/mahasiswa dari kegiatan diskusi yang akan dilakukan.
–   Menetapkan topik atau permasalahan; topik yang didiskusikan diusahakan harus menarik minat, menantang dan memerhatikan tingkat perkembangan siswa/mahasiswa. Topik masih bisa dirumuskan dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan. Melalui topik yang dirumuskan tersebut dapat mendorong dan menggugah rasa ingin tahu siswa/mahasiswa, sehingga siswa/mahasiswa akan secara aktif mencari informasi, belajar, dan memecahkannya.
–   Mengidentifikasi arah pembicaraan yang tidak relevan dan menyimpang dari arah diskusi. Hasil dari identifikasi dapat dijadikan masukan bagi pimpinan diskusi untuk meluruskan pembicaraan, pertanyaan, atau komentar lainnya, sehingga kegiatan diskusi senantiasa terjaga dan terfokus pada masalah diskusi.
–   Merangkum hasil diskusi; rangkuman ini tidak hanya dilakukan pada ahir diskusi, tapi selama proses berlangsung hasil pembicaraan yang inti segera dirangkum, sehingga pada ahir diskusi akan dapat menyimpulkannya secara lengkap dan akurat.
2.  Memperjelas masalah atau urunan pendapat
Pada saat diskusi berjalan, kadang-kadang pertanyaan, komentar, pendapat, atau gagasan yang disampaikan peserta diskusi ada kalanya kurang jelas, sehingga jelas mengaburkan pada topik pembahasan kadang-kadang juga menimbulkan ketegangan atau permasalahan baru dalam diskusi. Kejadian ini jangan dibiarkan semakin berkembang, karena akan mengganggu proses dan hasil diskusi itu sendiri.
Oleh karena itu guru atau pimpinan diskusi, harus segera memperjelas terhadap pendapat atau pembicaraan peserta diskusi yang kurang jelas ditangkap oleh peserta diskusi lainnya. Dengan demikian melalui upaya guru atau pimpinan diskusi urun rembug memberikan penjelasan yang diperlukan, maka setiap peserta diskusi akan memiliki persepsi yang sama terhadap ide yang disampaikan oleh anggota kelompok diskusi.
Untuk memperjelas setiap pembicaraan dari peserta diskusi, pimpinan diskusi atau guru dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:
–   Menguraikan kembali pendapat atau ide yang kurang jelas, sehingga menjadi jelas dipahami oleh seluruh peserta didik.
–   Mengajukan pertanyaan pelacak untuk meminta komentas siswa/mahasiswa untuk lebih memperjelas ide atau pendapat yang disampaikannya.
–   Memberikan informasi tambahan berkenaan dengan pendapat atau ide yang disampaikannya, seperti melalui ilustrasi atau contoh, sehingga dapat lebih memperjelas terhadap ide yang disampaikan itu.
3. Menganilisis pandangan siswa/mahasiswa
Perbedaan pendapat dalam diskusi adalah sesuatu yang wajar dan sangat mungkin terjadi. Namun yang harus diperhatikan oleh guru atau pimpinan diskusi adalah bagaimana agar perbedaan tersebut menjadi pendorong dan membimbimng setiap anggota kelompok untuk berpartisipasi secara aktif dan konstruktif terpecahkannya masalah yang didiskusikan.
Disinilah pentingnya melakukan analisis terhadap pandangan yang berbeda yang dimunculkan oleh setiap peserta diskusi. Analisis terutama ditujukan untuk meminta klasifikasi atau alasan yang dijadikan dasar pemikiran terhadap pendapat dari masing-masing anggota kelompok diskusi. Dengan demikian semua peserta diskusi akan memahami dan menghargai terhadap perbedaan pendapat yang dikemukakannya.
Setelah diperoleh informasi alasan-alasan dari masing-masing anggota berkenaan dengan pendapat yang berbeda-beda itu, maka selanjutnya pimpinan diskusi dapat menindaklanjutinya dengan mencapai kesepakatan terhadap hal-hal mana saja yang disepakati bersama, sehingga dari diskusi tersebut membuahkan kesimpulan bersama.
4. Meningkatkan urunan siswa/mahasiswa
Diskusi dalam pembelajaran antara lain adalah untuk melatih kemampuan berfikir siswa/mahasiswa, yaitu melalui menyampaikan ide, pendapat, komentar, kritik, dan lain sebagainya. Agar sasaran dari diskusi dapat tercapai yaitu dalam rangja mengembangkan kemmapuan berfikir siswa/mahasiswa secara optimal, maka guru atau pimpinan diskusi harus mendorong setiap anggota diskusi untuk berpikir dan menyampaikan buah fikirannya dalm forum diskusi tersebut.
Untuk memfasilitasi keaktifam siswa/mahasiswa ikut serta urun rembug dalam kegiatandiskusi yang dilakukan, ada beberapa aspek yang ditempuh oleh guru atau pimpinan diskusi, antara lain:
–   Mengajukan pertanyaan kunci yang menantang siswa/mahasiswa untuk berpendapat atau mengajukan gagasannya.
–   Memberikan contoh atau ilustrasi baik bersifat verbal atau non-verbal, dimana melalui contoh atau ilustrasi tersebut menggugah siswa/mahasiswa untuk berfikir.
–   Menghangatkan suasana diskusi dengan memunculkan pertanyaan yang memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat diantara anggota sesama kelompok.
–   Memberi waktu yang cukup bagi setiap anggota kelompok untuk berfikir dan menyampaikan buah fikirannya.
–   Memberikan perhatian kepada setiap pembicara sehingga saling menghargai dan dengan demikian dapat lebih mendorong siswa/mahasiswa untuk berpartisipasi memberikan sumbang pemikiran nelalui forum diskusi yang dilakukan.
5. Menyebarkan kesempatan berpartisipasi
Proses dan hasil diskusi harus mencerminkan dari hasil kerja kolektif antar sesama peserta diskusi. Oleh karena itu setiap anggota diskusi harus memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan ide, pendapat, atau memberikan komentar. Kegiatan diskusi merupakan salah satu contoh penerapan demokrasi dalam pembelajaran, karenanya pimpinan diskusi atau guru harus mampu mengendalikan kegiatan diskusi agar pembicara tidak didominasi oleh sekelompok atau orang-orang tertentu saja.
Apabila pembicaraan dalam diskusi hanya dimonopoli oleh peserta tentu saja, maka proses diskusi tidak akan berjalan secara efektif dan efisien. Demikian juga kesimpulan dari diskusi tersebut tidak mencerminkan hasil diskusi yang baik, melainkan kesimpulan dari sekelompok orang tertentu saja. Oleh karena itu untuk mendorong partisipasi secara aktif dari setiap anggota kelompok, dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:
–   Memberi stimulus yang ditujukan kepada siswa/mahasiswa tertentu yang belum berkesempatan menyampaikan pendapatnya, sehingga siswa/mahasiswa tersebut terdorong untuk mengeluarkan buah fikirannya.
–   Mencegah monopoli pembicaraan hanya kepada orang-orang tertentu saja, dengan cara terlebih dahulu memberi kesempatan kepada siswa/mahasiswa yang dianggap pendiam untuk berbicara.
–   Mendorong siswa/mahasiswa untuk merespon pembicaraan dari temannya yang lain, sehingga terjadi komunikasi interaksi antar semua pserta diskusi.
–   Menghindari respon siswa/mahasiswa yang secara serentak, agar setiap siswa/mahasiswa secara individu dapat mengemukakan pikirannya secara bebas berdasarkan pemahaman yang dimilikinya.
6. Menutup diskusi
Kegiatan terakhir dari pelaksanaan diskusi adalah menutup diskusi. Diskusi dikatakan efektif dan efisien apabila semua peserta diskusi berkesempatan mengemukakan ide atau pikirannya, sehingga setelah berakhirnya dikusi diperoleh kesimpulan sebagai hasil berpikir bersama. Adapun kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan oleh guru atau pimpinan diskusi dalam menutup diskusi antara lain adalah:
–   Membuat rangkuman sebagai kesimpulan atau pokok-pokok pikiran yang dihasilkan dari kegiatan diskusi yang telah dilaksanakan.
–   Menyampaikan beberapa catatan tindak lanjut dari kegiatan diskusi yang telah dilakukan, baik dalam bentuk aplikasi maupun  rencana diskusi pada pertemuan berikutnya.
–   Melakukan penilaian terhadap proses maupun hasil diskusi yang telah dilakukan, seperti melalui kegiatan observasi, wawancara, skala sikap dan sebagainya. Penilaian ini berfungsi sebagai umpan balik untuk mengetahui dan memberi pemahaman kepada siswa/mahasiswa terhadap peran dan partisipasinya dalam kegiatan diskusi tersebut. Hal ini penting untuk lebih meningkatkan aktivitas siswa/mahasiswa dalam pembelajaran melalui diskusi yang akan dilakukan pada kegiatan berikutnya.
 D.    Keunggulan Diskusi Kelompok Kecil
Beberapa keunggulan yang dapat diambil dari diskusi kelompok kecil :
  1. Kelompok menjadi kaya dengan ide dan informasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik
  2. Termotivasi oleh kehadiran teman
  3. Mengurangi sifat pemalu
  4. Anak merasa terikat untuk melaksanakan keputusan kelompok
  5. Meningkatkan pemahaman diri anak
  6. Melatih sisa untuk berfikir kritis
  7. Melatih siswa/mahasiswa untuk mengemukakan pendapatnya
  8. Melatih dan mengembangkan jiwa social pada diri siswa/mahasiswa
E.       Kelemahan Diskusi Kelompok Kecil
Beberapa kelemahan yang dapat diambil dari diskusi kelompok kecil :
  1. Waktu belajar lebih panjang
  2. Dapat terjadi pemborosan waktu
  3.  Anak yang pemalu dan pendiam menjadi kurang agresif
  4. Dominasi siswa/mahasiswa tertentu dalam diskusi
  5. Tidak dapat mencapai tujuan pembelajaran ketika siswa/mahasiswa kurang siap mengikuti kegiatan pembelajaran
Semua kekurangan tersebut dapat ditekan dengan rencana yang matang dan keterampilan guru mengarahkan, memberi petunjuk yang jelas, memahami kesulitan siswa/mahasiswa, dan membagi perhatian pada semua kelompok.
Diskusi kelompok bermanfaat ganda. Tidak hanya pengetahuan siswa/mahasiswa yang bertambah. Diskusi kelompok kecil juga memupuk rasa kebersamaan dan berbagi sesama siswa/mahasiswa. Untuk mendapatkan hasil maksimal di dalam diskusi kelompok kecil, ada hal-hal yang harus dihindari oleh guru dalam memimpin diskusi kelompok. Hal-hal yang harus dihindari tersebut adalah :
  1. Topik diskusi  yang tidak sesuai dengan minat siswa/mahasiswa.
  2. Terlalu mendominasi diskusi dengan cara mengajukan pertanyaan atau memberikan jawaban yang terlalu banyak.
  3. Membiarkan siswa/mahasiswa tertentu memonopoli diskusi kelompok.
  4. Membiarkan terjadinya pembicaraan yang menyimpang dari topik diskusi atau tidak relevan dengan apa yang sedang dibicarakan.
  5. Terlalu sering menginterfensi siswa/mahasiswa dengan pertanyaan atau pernyataan yang sebetulnya tidak penting.
  6. Tidak memberi waktu yang cukup untuk menyelesaikan masalah dalam rangka mencapai tujuan diskusi.
  7. Tidak memperjelas atau tidak mendukung pendapat siswa/mahasiswa.
  8. Gagal menutup diskusi dengan efektif.
Kesimpulan
Dalam membimbing diskusi kelompok kecil, guru dituntut untuk bisa mengatur jalannya diskusi sehingga metode diskusi tersebut dapat mencapai tujuan pembelajaran. Pada dasarnya, diskusi merupakan metode pembelajaran yang mengupayakan bagi semua siswa/mahasiswa untuk proaktif dalam berfikir dan mengungkapkan pendapat. Untuk itu, pelaksanaan diskusi harus dilaksanakan dalam iklim terbuka yang memungkinkan semua anggota kelompok untuk berpartisipasi. Selain itu  guru sebagai pembimbing diskusi kelompok kecil, harus mempersiapkan jalannya diskusi kelompok tersebut dengan berbagai persiapan. Persiapan itu meliputi pemilihan topik diskusi yang menarik dan sesuai dengan indikator, perumusan masalah yang mengundang jawaban kompleks, memberi pengetahuan awal yang melatarbelakangi topik diskusi, serta  penetapan besar anggota kelompok dan penataan tempat duduk.
Saran
Untuk itu guru diharapkan menguasai komponen keterampilan dalam memimpin diskusi kelompok kecil. Komponen-koponen keterampilan itu antara lain adalah memusatkan perhatian agar diskusi tetap terarah pada tujuan ahir pembelajaran.  Memperjelas  masalah dan meningkatkan urunan, kemampuan menganalisis pendapat siswa/mahasiswa, kemampuan meningkatan urunan siswa/mahasiswa dan menyebarkan kesempatan berpartisipasi, menutup diskusi.
Referensi

Sumber : http://strategipembelajaran.pusku.com/2015/02/keterampilan-membimbing-diskusi-kelompok-kecil/#more-3937 

Jumat, 26 September 2014

Metode Inkuiri



Metode  Inkuiri
Untuk mengetahui secara jelas mengenai pengertian metode inkuiri, maka di bawah ini telah dirumuskan oleh beberapa ahli mengenai definisi metode inkuiri sabagai berikut.
Sumantri (1998:164) menarik kesimpulan sebagai berikut,
Metode inkuiri atau metode penemuan adalah cara penyajian pelajaran yang memberi kesempadan kepada peserta didik untuk menemukan informasi dengan atau tanpa bantuan guru. Metode penemuan melibatkan peserta didik dalam proses-proses mental dalam rangka penemuan memungkinkan para peserta didik menemukan sendiri informasi-informasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya.
Ahli lain seperti Nurhadi (2004:122) berpendapat bahwa “dalam pembelajaran dengan penemuan/inkuiri, siswa didorong untuk belajar sebagaian besar melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka”.

Phillips (dalam Arnyana, 2007:39) mengemukakan “inkuiri merupakan pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan pada semua jenjang pendidikan. Pembelajaran dengan pendekatan ini sangat terintegrasi meliputi penerapan proses sains yang menerapkan proses berpikir logis dan berpikir kritis”. Ahli lain seperti Sanjaya (2008:196) berpendapat bahwa “strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan”.
Menyimak pendapat para ahli tersebut  mengenai metode inkuiri, meskipun dengan rumusan yang berbeda-beda namun dari segi makna tidak saling bertentangan karena sama-sama memberikan tekanan bahwa metode inkuiri itu adalah kegiatan pembelajaran yang melibatkan seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu masalah secara kritis, logis, dan analis sehingga siswa dapat menemukan jawaban atau pemecahan dari masalah tersebut.
Joyce (dalam Gulo, 2005:194) menyatakan bahwa kondisi-kondisi umum yang merupakan syarat timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa adalah: (1) aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas terbuka dan permisif yang mengundang siswa berdiskusi, (2) berfokus pada hipotesis yang perlu diuji kebenarannya, dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses pembelajaran dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta, sebagaimana lazimnya dalam pengujian hipotesis
Sudrajat, (2008:1) menyatakan, “proses inkuiri dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut. (1) merumuskan masalah, (2) mengembangkan hipotesis, (3) menguji jawaban tentative, (4) menarik kesimpulan, (5) menerapkan kesimpulan dan generalisasi”.
Tahapan-tahapan dalan Proses menerapkan metode inkuiri tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
1)      Merumuskan masalah
Kemampuan yang dituntut adalah: (a) kesadaran terhadap masalah, (b) melihat pentingnya masalah, dan (c) merumuskan masalah.
2)      Mengembangkan hipotesis
Kemampuan yang dituntut dalam mengembangkan hipotesis ini adalah: (a) menguji dan menggolongkan data yang dapat diperoleh, (b) melihat dan merumuskan hubungan yang ada secara logis, dan merumuskan hipotesis.
3) Menguji jawaban tentative
Kemampuan yang dituntut adalah: (a) menyusun peristiwa, terdiri dari: mengidentifikasi peristiwa yang dibutuhkan, mengumpulkan data, dan mengevaluasi data,  (b) menyusun data, terdiri dari: mentranslasikan data, menginterpretasikan data, dan mengklasifikasikan data, (c) analisis data, terdiri dari: melihat hubungan, mencatat persamaan dan perbedaan, dan mengidentifikasikan datan, konsekuensi, dan keteraturan.
4) Menarik kesimpulan
Kemampuan yang dituntut adalah: (a) mencari pola dan makna hubungan, dan (b) merumuskan kesimpulan
5)      Menerapkan kesimpulan dan generalisasi
Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan, teman yang kritis dan fasilitator. Guru harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok, serta memberi kemudahan bagi kerja kelompok.